Selasa, 16 April 2013

Kaum Muslim Srilanka Akan Bernasib Sama dengan Muslim Rohingya?

Sejak dua bulan, tercatat jumlah kasus Pelecehan terhadap umat Islam di Srilanka semakin meningkat, terutama setelah para biksu Buddha menampakkan kebenciannya terhadap minoritas Muslim di Srilanka, lalu menyerukan memboikot toko-toko yang dimiliki oleh umat Islam, termasuk melecehkan Syiar Islam seperti Jilbab yang dikenakan oleh para Muslimah. Bulan lalu, di jalan kota Kolombo, kota industri, perdagangan dan kota budaya terbesar sekaligus ibukota negeri ini, ketika beberapa Muslimah berjalan tiba-tiba beberapa lelaki mendekati mereka dan memaksa dengan kasar untuk melepaskan Gamis yang mereka kenakan dan juga meminta mereka untuk meninggalkan kota ini.
Selain itu seorang sopir bus menolak menerima tiket bus seorang Muslimah kecuali jika ia melepaskan Jilbabnya. Supir bus mengatakan bahwa para penumpang tidak akan bersedia duduk dengan seorang Muslim, dan ketika Muslimah tersebut menolak, supir trsebut memintanya untuk turun dan menunggu bus yang lain.
Setelah serangkaian insiden yang sangat serius tersebut, kehidupan Muslim Srilanka berada dalam bahaya, seorang Muslimah yang bekerja sebagai guru mengatakan, “pelecehan yang terjadi membuat kami takut untuk berjalan sendiriann di jalan-jalan,”
Sementara Ridwan Muhammad, pemilik toko klontong di pusat kota Kolombo mengatakan,”penjualan menurun secara signifikan sejak Januari lalu, karena lembaga Buddhisme (Boda Bala Sina) menempel poster di seluruh negeri menyerukan seluruh masyarakat memboikot toko yang dimiliki umat Islam dan mengancam akan menghukum keras bagi orang yang melakukannya.”
Bahkan saat peliputan media resmi televisi Srilanka, beberapa biksu Buddha melempar toko pakaian meilik Muslim, toko yang bernama “Fashion Bagh” tersebut adalah toko pakaian yang sangat terkenal di kalangan orang Srilanka, dan para Biksu juga menyerang wartawan yang ingin meliput.
Beberapa pemberitaan menyatakan bahwa pemerintah berada dibalik ketegangan ini, namun tuduhan tersebut langsung dibantah oleh pemerintah terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

nrelate